"Sepuluh tahun lalu, Damar pergi merantau dan berjanji akan kembali untuk menikahiku. Aku mempercayainya dan memilih menunggu, meski semua orang menganggapku bodoh. Tapi setelah bertahun-tahun tanpa kabar, sebuah surat datang di sore hujan yang dingin. Dan sejak membaca surat itu, hidupku tidak pernah sama lagi.""
+ + +
Surat itu datang tepat saat aku hampir menyerah menunggunya.
Kertasnya sudah sedikit basah karena hujan. Nama dan alamat rumahku ditulis dengan tangan yang sangat kukenal.
Tulisan Damar.
Dadaku langsung sesak.
Sepuluh tahun aku menunggu lelaki itu pulang.
Sepuluh tahun aku mencoba percaya bahwa janji yang diucapkannya di terminal kecil kota ini bukan sekadar ucapan lelaki muda yang terlalu banyak mimpi.
Tanganku gemetar saat membuka amplop cokelat itu.
Dan aku belum tahu… surat itu akan menghancurkan sebagian hidupku yang tersisa.
Sepuluh tahun lalu, aku dan Damar hanyalah dua anak muda biasa yang jatuh cinta terlalu dalam.
Kami tinggal di kota kecil dekat pelabuhan.
Ayahku penjual kopi keliling.
Ibunya penjahit rumahan.
Hidup kami sederhana.
Tapi Damar selalu punya mimpi besar.
“Aku mau kerja di luar kota,” katanya suatu malam.
Kami duduk di bangku kayu dekat sungai sambil makan gorengan.
Lampu jalan redup. Angin malam dingin sekali.
“Aku nggak mau hidup susah terus.”
Aku diam waktu itu.
Karena aku tahu… cepat atau lambat, dia akan pergi.
Dan ternyata benar.
Dua bulan kemudian, Damar diterima bekerja di Kalimantan.
Malam sebelum keberangkatannya, hujan turun deras.
Kami berteduh di terminal sambil duduk berdekatan.
Damar menggenggam tanganku erat sekali.
“Tunggu aku ya.”
Aku menatap matanya lama.
“Memangnya berapa lama?”
“Nggak lama.”
Dia tersenyum kecil.
“Kalau aku udah cukup uang, aku pulang. Kita nikah.”
Kalimat sederhana itu terus hidup di kepalaku sampai bertahun-tahun kemudian.
Awalnya semuanya baik-baik saja.
Damar sering menelepon.
Kadang mengirim foto tempat kerjanya.
Kadang mengirim uang untuk ibunya.
Kadang mengirim pesan panjang tentang rindunya.
Aku menyimpan semua pesannya.
Setiap malam aku membacanya ulang sebelum tidur.
Seolah itu cukup untuk mengobati jarak.
Tahun pertama berlalu.
Lalu tahun kedua.
Aku mulai bekerja di toko kue kecil dekat pasar.
Setiap orang yang mengenalku selalu bertanya,
“Damar kapan pulang?”
Aku selalu tersenyum.
“Sebentar lagi.”
Padahal aku sendiri tidak tahu.
Memasuki tahun ketiga, kabarnya mulai jarang.
Teleponnya sering tidak aktif.
Pesannya semakin pendek.
Kadang hanya:
“Aku sibuk.”
Atau:
“Doakan aku sehat.”
Aku mulai cemas.
Tapi aku terus mencoba mengerti.
Mungkin dia benar-benar sedang berjuang.
Sampai suatu malam, ibunya datang ke rumahku sambil menangis.
“Damar kecelakaan kerja.”
Dunia rasanya runtuh saat itu.
Aku langsung terduduk.
Katanya Damar sempat dirawat beberapa minggu.
Tapi setelah itu…
dia menghilang.
Tidak ada kabar.
Nomornya mati.
Teman-temannya tidak tahu dia pindah ke mana.
Sejak malam itu, hidupku seperti berhenti berjalan.
Orang-orang mulai menyuruhku melupakan Damar.
“Dia pasti udah punya perempuan lain.”
“Kamu mau nunggu sampai tua?”
“Apa nggak capek?”
Aku capek.
Sangat capek.
Tapi lebih capek lagi membayangkan kalau suatu hari Damar pulang… dan aku sudah tidak ada untuknya.
Jadi aku tetap menunggu.
Bodoh memang.
Tapi cinta kadang memang membuat seseorang bertahan bahkan ketika logika sudah lama menyerah.
Tahun demi tahun berlalu.
Aku melihat teman-temanku menikah.
Punya anak.
Punya keluarga.
Sementara aku masih tinggal di rumah kecil yang sama.
Masih bekerja di toko kue yang sama.
Masih duduk di teras setiap sore sambil melihat jalan depan rumah.
Seolah Damar bisa muncul kapan saja.
Kadang aku membenci diriku sendiri.
Kenapa aku belum bisa pergi dari kenangan itu?
Kenapa aku masih mengingat lelaki yang mungkin bahkan sudah melupakanku?
Tapi setiap kali hujan turun…
aku selalu teringat malam di terminal itu.
“Tunggu aku ya.”
Dan anehnya, hatiku selalu kembali percaya.
Sampai sore itu datang.
Hujan turun pelan.
Aku baru pulang bekerja ketika seorang tukang pos memanggil dari depan pagar.
“Mbak Sinta?”
“Iya?”
“Ada surat.”
Sudah lama sekali tidak ada yang mengirim surat ke rumahku.
Aku menerimanya sambil bingung.
Dan saat melihat tulisan tangan itu…
lututku langsung lemas.
Tulisan Damar.
Aku buru-buru masuk rumah.
Jantungku berdebar sangat keras.
Banyak sekali kemungkinan memenuhi kepalaku.
Mungkin dia mau pulang.
Mungkin dia sakit.
Mungkin dia akhirnya menemukan jalanku lagi.
Aku membuka surat itu perlahan.
“Untuk Sinta…
Kalau kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah terlalu lama pergi.
Maaf karena membuatmu menunggu selama ini.”
Air mataku langsung jatuh bahkan sebelum selesai membaca.
Tanganku gemetar hebat.
“Aku sebenarnya ingin pulang sejak lama.
Tapi setelah kecelakaan itu, hidupku berubah.
Kakiku lumpuh sebagian dan aku kehilangan pekerjaan.
Aku malu pulang dalam keadaan seperti itu.”
Aku menutup mulutku menahan tangis.
Hujan di luar terdengar semakin deras.
“Aku mencoba menghubungimu berkali-kali, tapi aku selalu takut.
Takut melihatmu kecewa.
Takut menjadi beban dalam hidupmu.”
Dadaku terasa sakit sekali.
Bodohnya lelaki itu.
Aku tidak pernah peduli soal itu.
Tidak pernah.
“Aku bekerja serabutan di kota kecil ini.
Kadang aku melihat pasangan berjalan bersama dan aku selalu ingat kamu.
Aku selalu ingat terminal itu.
Aku selalu ingat janji kita.”
Air mataku jatuh di atas kertas surat.
Tangan kiriku terus gemetar.
Lalu aku membaca bagian terakhir surat itu.
Dan bagian itulah yang menghancurkan semuanya.
“Sinta…
Dokter bilang penyakitku sudah menyebar terlalu jauh.
Aku tidak punya banyak waktu lagi.
Maaf karena tidak bisa pulang menemuimu.
Maaf karena membuatmu menunggu lelaki yang bahkan gagal menepati janjinya.
Tapi kalau di hidup ini aku boleh meminta satu hal…
Aku harap kamu bahagia.
Jangan tunggu aku lagi.
Terima kasih sudah pernah mencintaiku sebesar ini.
— Damar”
Aku menangis sampai malam.
Sendirian.
Dengan surat itu di dada.
Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun…
aku sadar bahwa penantianku benar-benar sudah selesai.
Dua minggu kemudian, aku memberanikan diri pergi ke alamat yang tertulis di belakang amplop.
Kota kecil itu jauh sekali.
Aku naik bus hampir semalaman.
Sepanjang perjalanan, aku terus memegang surat itu erat-erat.
Aku berharap…
entah bagaimana…
aku masih bisa bertemu Damar.
Tapi saat sampai di sana, seorang perempuan tua membuka pintu rumah kecil itu.
Aku menyebut nama Damar dengan suara pelan.
Dan perempuan itu langsung menatapku lama.
“Kamu Sinta ya?”
Aku mengangguk.
Perempuan itu tersenyum sedih.
“Damar sering cerita tentang kamu.”
Dadaku mulai sesak.
“Dia mana, Bu?”
Perempuan itu terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan,
“Damar meninggal tiga hari lalu.”
Dunia rasanya berhenti.
Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi setelah itu.
Yang tersisa cuma suara hujan.
Dan rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan.
Perempuan itu memberiku sebuah kotak kecil milik Damar.
Di dalamnya ada foto SMA kami.
Tiket bus lama.
Dan gelang kain murah yang pernah kuberikan padanya dulu.
Dia menyimpan semuanya.
Selama sepuluh tahun.
Aku menangis memeluk kotak itu.
Bukan karena Damar pergi.
Tapi karena ternyata… dia benar-benar mencintaiku selama ini.
Dan mungkin, di dunia yang terlalu keras ini, cinta sederhana seperti itu memang jarang bertahan.
Tapi sekali hidup di hati seseorang…
ia tidak benar-benar hilang.
Malam itu, sebelum pulang, aku pergi ke makam Damar.
Hujan turun kecil.
Sama seperti malam perpisahan kami dulu.
Aku duduk lama di sana sambil menggenggam surat terakhirnya.
“Aku datang, Mar…”
Air mataku jatuh lagi.
“Maaf aku telat.”
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku akhirnya benar-benar melepaskannya.
Pesan Moral
Tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Kadang, cinta terbesar justru hadir dalam bentuk penantian, ketulusan, dan seseorang yang diam-diam tetap mencintai kita sampai akhir hidupnya.
#CeritaRomantis #KisahNyata #CeritaSedih #RomansaIndonesia #CeritaCinta #KisahViral #CeritaBaper #CintaSejati #SuratTerakhir #RomanceStory